Kampoeng BNI(1)

Back


KLIK Web. http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/ritel-ukm-mikro/1id41823.html, Seperti halnya Mamang Adin, sebagian warga desa Banjaran, kecamatan Cijambe, kabupaten Subang, kini punya kesibukan baru, setelah Didi Supriyadi, 37 tahun, membuka daerah pembibitan sapi perah, November 2007. Warga yang sebelumnya bekerja sebagai buruh serabutan dengan upah harian rata-rata Rp17.500, kini menjadi peternak sapi. Pendapatan mereka pun meningkat menjadi rata-rata Rp. 25.000.Di daerah yang mereka namai Kampung BNI, peternak ini tidak sekadar sebagai pekerja, tapi juga pemilik sapi yang akan memperoleh bagian keuntungan dari penjualan ternak setelah dipelihara selama 5-6 bulan. Kampung BNI ini berdiri pada areal milik Didi Supriyadi seluas 18,6 hektare di dataran tinggi Awul, di daerah selatan Subang. Dia membuka areal ini untuk warga yang akan beternak sapi bibit di bawah bendera PT Simpang Jaya Dua. Pengusaha lulusan SPMA Cikole ini juga bertindak sebagai menjamin pemasaran, sedangkan permodalan para peternak diperoleh dari pinjaman lunak Kemitraan BNI, di mana Didi bertindak sebagai penjamin (avalis) dan 'bapak angkat' yang menyediakan jasa pembinaan. Ikhwal kemitraan ini ketika Simpang Jaya Dua mendapatkan order pasokan sapi bunting jenis Frissian Holstein (FH) dari salah satu perusahaan swasta sebanyak 1.000 ekor per tahun pada Mei 2007. Sebelumnya, pesanan juga datang dari Pemprov Jabar dan sejumlah pemerintah daerah lain, seperti Kabupaten Sumedang dan Provinsi Jambi rata-rata 200 ekor s.d 300 ekor. "Manajemen peternakan kami siapkan. Kami menyediakan kandang, pakan, obat-obatan dan peralatan. Juga tenaga ahli dan dokter hewan," ujar Didi. Pengadaan sapi umur 11 s.d 21 bulan ini diperoleh dari berbagai daerah di Jabar, yang relatif masih murni keturunannya. Artinya tidak tercampur dengan sapi-sapi lokal. Harganya Rp6 jutaan. Sebulan dirawat dan diberi nutrisi yang bagus, sapi dara ini diberi inseminasi buatan. Sapi siap dijual dalam kondisi bunting 4-5 bulan. Setelah itu, Simpang Jaya Dua dan peternak pemilik sapi menghitung bagian keuntungan masing-masing. A. Fajar Gunawan, Pemimpin Sentra Kredit Kecil Purwakarta BNI, mengatakan pertimbangan pengucuran pinjaman itu adalah konsep pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan yang saling menguntungkan. "Dana ini harus bisa digulirkan. Jadi tidak habis. Nah, salah satu kelebihan Didi Supriyadi ini adalah dalam mi-tigasi risiko bisnis. Misalnya, jalan ke peternakan hanya bisa akses dari satu pintu," ujarnya. Dengan berkelompok dalam satu kawasan, manajemen dan pengawasan program juga lebih efektif dibandingkan pengucuran kepada individu yang tersebar. Saat ini kelompok peternak di Kampung BNI tercatat 96 orang. Bank BUMN ini mengucurkan pinjaman lunak berbunga 4% per tahun mulai Agus-tus 2007. "Peternak rata-rata memperoleh Rp30 juta. Setelah berkembang, kami bisa berikan kredit Tunas Usaha, plafonnya Rp100 juta," ujar Gunawan. Menurut Didi, salah satu manfaat kemitraan ini adalah pengenalan dunia bank kepada para peternak. Jadi, kalau ada hasil (keuntungan) tidak langsung habis dikonsumsi. "Tahu sendirilah, kalau ada untung. Sekarang untung sedikit kita tabung. Alhamdulillah, sampai saat ini tidak ada sapi ternak yang mati," ujarnya. Dia berharap usaha kemitraan sapi perah ini terus berkembang dan lebih meluas ke sapi potong yang dinilai lebih menguntungkan sehingga akan melibatkan lebih banyak lagi warga masyarakat. "Kuncinya adalah komitmen. Apa yang kita kerjakan ini diseriusi betul," ujarnya. Didi dibantu istrinya Nengsih mulai merintis usaha sejak lulus SPMA dengan berjualan daging ayam potong. Berbekal kerja keras dan kemauan belajar yang kuat, dia berhasil menjadi pemasok daging ayam maupun telor ke pasar tradisional dan jaringan pasar modern di Jawa Barat dan bagian timur Jakarta. Salah satu kuncinya adalah membangun kemitraan dengan para peternak. Kerja sama yang harmonis inilah yang menopang kekuatan Didi dalam bernegosiasi di pasar. Dalam sehari pasokan daging dan telor Simpang Jaya Dua mencapai 15 ton. Bisnis restorannya juga cukup sukses. Mak Pinah, merek rumah makannya, saat ini sudah merambah Jakarta. Didi juga menggarap bisnis jasa angkutan minyak, show room motor dan mobil dan perusahaan kontruksi. (fatkhul.maskur@bisnis.co.id)Oleh Moh. Fatkhul MaskurWartawan Bisnis Indonesia)

Category: Education
Uploaded: November 18th, 2008 @ 2:49 am
Author: agusramadas

Length: 00:32
Rating:
Views:

Tags: sapi perah

Related Video Links:


» View Video Comments For Kampoeng BNI(1)
» View agusramadas's Other Uploaded Videos

Video Thumbnails:


Thumbnail #1 Video Thumbnail #1:

Thumbnail #2 Video Thumbnail #2:

Thumbnail #3 Video Thumbnail #3:



Video Embedding Code:


Video Url:


Embed Code:

* Embed this video on your website, social bookmark, myspace, or blog.